Wira Sabuk Gunung, Penasarannya Tentang Resistian Terjawab Sudah

361

Memang ada sesuatu yang berbeda belakangan ini dalam kompetisi gelaran Ronggolawe Nusantara. Khususnya kompetisi tingkat nasional yang digelar di Taman Bunga Wiladatika Cibubur dan di beberapa kota besar lainnya.

Yaitu dalam sistem penilaiannya. Karena dalam beberapa kesempatan, kompetisi Ronggolawe Nusantara menggunakan Resistian (Reformasi Sistem Penilaian). Ini adalah buah pemikiran dari Kang Ebod sebagai founder dan pemerhati dunia perburungan.

Resistian tidak merubah pakem penilaian untuk menentukan burung yang berkualitas dalam kompetisi. Irama lagu, durasi dan gaya tetap jadi acuan seperti biasanya. Cuma langkah korlap saja dan juri yang sedikit berbeda. Ini bisa dibilang pengembangan atau modifikasi dari sistem blok dorong.

Dengan sistem resistian juga banyak keuntungan untuk EO (Event Organizer) itu sendiri. Yaitu ada pemangkasan waktu yang cukup signifikan. Karena sudah tidak ada lagi merumus ajuan juri dan penancapan bendera nominasi. Setiap sesi bisa menghemat waktu sampai delapan menit. Bila dikalikan dengan jumlah sesi dalam suatu kompetisi, sudah berapa lama waktu yang bisa dipangkas.

“Ini sebuah terobosan yang briliant. Korlap tidak bisa merubah ajuan juri. Semua burung bisa terpantau dengan merata. Dan yang terpenting adalah Resistian akan sangat mempersulit kecurangan. Sudah jadi rahasia umumlah apa bila dalam kompetisi ada istilah burung titipan. Sekarang, dengan sistem Resistian, kesempatan untuk bisa menjadi pemenang menjadi lebih besar lagi. Seru lah pokoknya. Dan saya jadi lebih semangat lagi dengan kompetisi yang manggunakan sistem Resistian”, ucap Wira Sabuk Gunung yang turut meramaikan kompetisi Ronggolawe Award beberapa saat lalu. (red#1)