Ternak Murai Batu Menjadi Bisnis Keluarga

130

Mediaronggolawe.id – Makna peribahasa Tak kenal maka tak sayang, adalah sifat sesorang yang tidak dapat diketahui pasti jika belum mengenalnya secara dekat. Itu lah peribahasa yang sering kita dengar. Dan dalam dunia nyata, hal itu sering dialami oleh seseorang, bahkan banyak orang.

Sama seperti yang dialami oleh tokoh kita yang satu ini, pada awalnya, mengerti jenis-jenis burung pun tidak, apalagi suka. Hingga suatu saat, th 2016, mendengar suara burung kenari yang sedang bernyanyi, dirasanya sangat merdu, sehingga timbul niat untuk memiliki burung. Nha berawal dari situ lah, muncul keinginannya untuk mempunyai burung yang lain selain kenari. Cucak hijau, kacer, cendet, pernah dimilikinya, namun murai batu menjadi burung yang paling disenangi.

Mulailah Om Tarsono, nama lengkap tokoh kita ini, memelihara murai batu, yang tadinya hanya satu, hingga bertambah koleksi burungnya beberapa ekor. Kesenangannya bertambah ketika diajak oleh teman-temannya untuk mengikutkan murai batu nya ke lapangan latber, menjadi juara.

Sebagai seorang bisnisman, profesi Om Tarsono adalah kontraktor dibidang konstruksi baja ringan, main burung tidak bisa dilakukan setiap hari, sehingga timbul niat untuk berternak murai batu. Mulai lah pada tahun 2017, Dia belajar dari teman-teman sesama penggemar murai batu/ peternak murai batu. Dari teman-temannya itu lah, mulailah dibuat kandang di samping rumah miliknya, dan alhasil jadilah 7 kandang yang berukurn masing-masing, 1 x 1,75 meter, dan tinggi 2,4 meter. Awalnya Om Sono hanya memiliki 4 pasang murai batu, hingga sekarang kandang ternaknya telah berisi 10 pasang murai batu.

Om Sono di Depan Kandang Ternaknya

Sejak tahun 2017 sampai sekarang, sudah puluhan ekor anakan murai, trotolan, dihasilkan dari kandang ternakannya. Bahkan banyak penggemar murai batu yang memesan hasil ternakannya. Tidak tanggung-tanggung, sekali pesan, seseorang bisa sampai 8 ekor trotolan, dan hampir keseluruhan pemesannya berasal dari Jakarta, Bekasi, Kerawang. Jika ditanya, sampai harga berapa setiap ekornya ?, “Saya memberi harga 3 – 7 juta untuk tiap ekornya”. “Semua saya jamin jantan. Jika ternyata bukan jantan, silakan kembalikan burung, saya tukar dengan yang jantan, saya tambah charge 200-300 ribu”, demikian tambahnya.

Sekitar 4-5 bulan yang lalu, trotolan Om Sono semua menggunakan Ring APBN, dan ring sendiri, SKK. Bahkan ketika even Piala Gunung Jati 2 di Cirebon, Om Sono sempat bertemu, dan foto-foto bareng Perdana Menteri APBN, Bang Ridho Pulungan, dan bertemu juga dengan pemilik Ebod Jaya, Kang Ebod. Dari pertemuan itu, menambah semangat Om Sono untuk melestarikan murai batu.

Disela-sela ngobrol sambil ngopi di teras rumahnya, Desa Wanasari Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes, Om Sono Keling demikian akrab disebutnya, bercerita, “Semua trotol, yang ngasih makan itu istri”, “Sering karena pekerjaan, saya harus pergi sampai malam”, tambahnya. Ketika itu, istri Om Sono keluar sambil membawa kue, “Alhamdulillah, kesibukan memberi makan anakan murai, ada hasilnya, bisa untuk tambah uang saku anak kuliah”, kata istri Om Sono. Jika ditanya apa menu untuk trotolannya, “Pakan Trotol, dan vitamin Ebod Vit, tidak pernah habis. Selalu ada persedian”, Jawabnya praktis.

Pengiriman trotolan ke Kerawang

 

Om Sono memang terkenal ramah dan mudah bergaul di lingkungan kicau mania, dan tidak sangka juga kalau sosok yang baru berumur 44 tahun ini sudah punya cucu, 1 orang. “Saya memang nikah muda”, katanya sambil tertawa. Anak yang nomor 2, bungsu, sekarang sedang kuliah di Semarang, semester 4, jurusan manajemen.

Menjelang Ashar, penulis (red) berpamitan pulang, Om Sono dan istri pun mengantar sampai pinggir jalan, “Jangan kapok Pak, sering main kesini”, kata Om Sono.