Profesor Penangkaran Ketua APBN KORWIL Bogor Raya

67

Bisa dimaklumi apabila anggota Asosiasi Penangkar Burung Nusantara Korwil Bogor Raya sangat mengagumi sosok pria kebapakan yang satu ini. Sabar dalam mendidik dan menularkan pengalamannya serta pengetahuannya kepada para anggota APBN diwilayah Korwil Bogor mengenai penangkaran burung berkicau endemik asli Indonesia membuat para anggota dan kolega nya menjuluki dirinya sebagai Profesor Penangkaran.

Pria kalem dan pengayom ini lahir di kota Klaten pada tanggal 11 November 1968 dan sampai sekarang masih terlibat secara aktif melakukan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat yang ingin mempelajari tentang penangkaran. “Saat ini saya masih menjadi partner Dinas Kehutanan Pemda Jawa Barat untuk program Pembinaan masyarakat dalam pemanfaatan hasil hutan agar bisa meningkatkan ekonomi masyarakat lewat bimtek Penangkaran burung” ujarnya ketika ditanyakan mengenai lika-liku pengalamannya dalam hal penangkaran.” Itu saya buat dalam bentuk modul Bimbingan Teknis yang diantaranya ada di Taman Hutan Raya di jalan Ir.H.Juanda Bandung, lalu juga ikut serta dalam Program Pembinaan Masyarakat Kawasan Hutan Gunung Pancar Bogor, lalu juga dengan Dinas Hutbun di Subang, lalu Bimtek Penangkaran Burung bagi Pedagang Burung di Cirebon dan yang terakhir Bimtek Penangkaran burung bagi Pedagang Burung di Pasar Burung Cikurubug Tasikmalaya” tambahnya sambil tersenyum ramah. Dengan segerbong pengalaman tersebut, tidak heran apabila beliau pernah di minta seseorang yang baru terjun di dunia penangkaran burung untuk menjadi mentor dan konsultan sampai penangkarannya berjalan autopilot.

Para anggota APBN Korwil Bogor tidak salah apabila berbesar hati dengan adanya Profesor Penangkaran ini ditengah-tengah mereka, selain juga aktif mengadakan pertemuan seminggu sekali, di Korwil Bogor ini juga dijumpai program-program menarik yang bersentuhan langsung dengan para anggota APBN. ” kita ada arisan untuk jangkrik, kroto sampai pisang untuk pakan ternak, disamping juga memudahkan rekan-rekan untuk mendapatkan kebutuhan pakan, sekaligus bisa lebih murah dan secara otomatis juga membantu rekan kita sendiri” imbuhnya.

Secara aktif beliau juga memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga indukan betina dan menjaga harga hasil produksi penangkaran di wilayah Bogor. Program-program yang membumi ini tak pelak membuat rumah beliau kerap menjadi tempat untuk berkumpulnya para anggota APBN di Bogor bahkan juga dari wilayah lain. ” Cucak Rawa ada 10 pasang indukan baru dan 5 pasang yang sudah produksi, jumlah anakan yang biasa dipanen untuk Cucak Rawa rata-rata 6 sampai 8 ekor perbulannya, kalau Muray Batu ada 7 pasang saat ini, dan yg produksi ada 5 pasang dengan hasil panen anakan 10 sampai 15 ekor perbulan” ceritanya mengenai kandang penangkaran yang berada di lantai dua rumahnya.” APBN ini suatu asosiasi yang sangat bagus sekali, dan bisa sebagai wadah untuk para penangkar diseluruh Nusantara menjalin silaturahim, dan saling belajar mengembangkan teknik penangkarannya agar bisa sukses bersama” tutupnya di akhir pembicaraan.

Sesuai sekali dengan misi dan visi APBN yang bertujuan untuk menjadi wadah silaturahim para penangkar di seluruh Nusantara untuk mengembangkan diri menjadi penangkar profesional yang sukses menggapai tujuan dan semboyan APBN. Semoga dengan adanya figur seorang Profesor Penangkaran seperti pak Yoen Yuwana ini APBN bisa sukses menggapai semboyannya. Alam terjaga, Penangkar sejahtera, Hobi abadi selamanya.
Salam Konservasi. (red/Rho220).