PPKT (Paguyuban Peternak Kenari Tegal) Pelopor G10 di Tegal

214

Mediaronggolawe.id – Akhir 2014 adalah tonggak sejarah perburungan, kenari di Tegal. Karena pada tahun itu, telah lahir komunitas pecinta sekaligus pelestari burung kenari. Komunitas itu menamakan dirinya dengan PPKT (Paguyuban Peternak Kenari Tegal). PPKT terbentuk karena adanya kecintaan para pendiri komunitas  terhadap burung kenari. Para pendiri ini sangat prihatin terhadap perkembangan burung kenari di Tegal. Sedangkan untuk daerah lain, penggemar kenari selain memikirkan kualitas, juga kuantitas. Hal ini disebabkan karena kurang beraninya penggemar kenari di Tegal untuk  berinovasi, baik untuk meningkatkan kualitas burung dalam lomba (=mencetak burung jawara), maupun dalam hal menciptakan bibit-bibit kenari dengan kualitas unggul. Munculnya PPKT dengan berbagai inovasi, ternyata menarik minat penggemar kenari di Tegal, dan semakin lama, jumlah anggota PPKT makin bertambah, ini menunjukkan minat anggota untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas dengan cara bersama-sama belajar.

Dengan lahirnya paguyuban, diharapkan para anggota lebih berani untuk mencoba hal-hal baru. Untuk keprluan tersebut, PPKT setiap bulan mengadakan Kopdar, dengan agenda sharing/ berbagi pengalaman, diskusi tentang perkembangan kenari di Tegal atau pun di luar Tegal.

Dalam ulang tahun yang pertama, 2015, PPKT  mengadakan lomba dengan sistem G10. Lomba yang setiap sesinya, jumlah peserta hanya 10 burung. Inilah untuk pertamakalinya PPKT mengadakan kegiatan lomba dengan konsep G10.

Bagaimanakah lomba dengan sistem G10 ?

G10 adalah lomba dalam satu sesi  jumlah peserta hanya 10, dengan asumsi, jumlah peserta lomba yang hanya 10 dengan empat juri, penilaian lebih detail, akurat. Penilaian burung menggunakan poin. Misalnya, burung dalam penilaian mencakup empat kriteria penilaian, setiap kriteria memiliki poin maksimal / minimal. Dalam menilai burung, juri hanya mengisi kriteria-kriteria dengan poin yang sudah ditentukan, di akhir penghitungan, juri menjumlah skor tiap burung sesuai dengan angka-angka yang diisikan pada kolom-kolom tiap kriteria. Untuk menyamakan persepsi dalam memberikan skor, sebelum pelaksanaan lomba, semua juri dan panitia (yang mewakili) telah berunding untuk menentukan skor tiap kriteria.

Sistem G10 ini diharapkan, penonton/peserta duduk tenang sambil memperhatikan burung. Dengan suasana tenang ini, juri akan lebih konsentrasi dalam menilai. Anggota PPKT sendiri sudah mempunyai juri-juri yang sudah mengikuti Diklat Juri Papburi.

Dalam kesempatan ini pula, PPKT mengharapkan, lomba kenari dengan sistem G10 diterapkan di Tegal, meskipun tidak setiap even, tetapi biar tidak lupa, dan tidak menutup kemungkinan, sistem G10 ini juga bisa diberlakukan untuk semua jenis burung. (Yus-tegal)