Perdana Mentri APBN Ridho Pulungan, Total Dalam Dunia Penangkaran

85

MENDEBAT MITOS MURAI BATU MUDA HUTAN vs MURAI BATU TANGKARAN JAMAN NOW.

Sampai saat ini mitos yang beredar di Kicau Mania khususnya pemain burung murai batu adalah bahwa Murai Batu Muda Hutan (MH) lebih bagus daripada Murai Batu Tangkaran, Benarkah mitos tersebut?
Saya jadi teringat masa kecil apabila membicarakan soal burung murai batu. Pada masa itu, ketika saya masih bersekolah SD, orang tua khususnya bapak saya sudah menyenangi burung kicauan, di halaman rumah di daerah Pondok Rumput, kecamatan Tanah Sareal. kota Bogor dibuat kandang yang sangat besar yang berisi burung-burung masteran, seperti jalak, cililin, pelatuk dan lainnya lengkap dengan taman bahkan air mancur didalamnya, lalu disekeliling kandang besar tersebut di bawah plafon rumah di tempatkan burung-burung kicauan, dan karena bapak adalah orang rantau dari Sipirok, Sumatera maka bisa dibilang fanatik dengan jenis burung murai batu. Pada masa itu murai batu yang ada di pasaran dan biasa diperjualbelikan memang hasil tangkapan hutan, dan masih asli berasal dari daerah-daerah di Sumatera semisal Lampung, Jambi, Bukit Barisan, Bahorok, Pasaman atau lainnya. Orang yang berdagang murai batu biasa menyebutnya sebagai Murai Batu Medan, karena memang sebagai kota yang paling besar pada masa itu, kota Medan menjadi pusat tempat para pengepul murai batu dari daerah-daerah sekitarnya.

Bapak juga rajin ikut lomba burung, saya ingat dulu, di Bogor nama klub burungnya atau BirdClub (BC) nya adalah Gema Raya, pemain burung senior di Bogor seangkatan Kang Ayi atau Koh Akui atau om Joni uban pasti ingat nama BC ini. Burung-burung yang dilombakan tentunya juga hasil tangkapan hutan. Pada masa itu sampai sebelum wabah Flu Burung melanda Indonesia dan membuat koma industri burung berkicau di Indonesia, hampir semua burung murai batu yang dilombakan adalah tangkapan hutan, dan dipelihara dari umur semuda mungkin, biasanya yang dicari adalah murai batu yang berumur dibawah 5 bulan ketika bulu trotol berganti dengan bulu dewasa, oleh karena itu muncullah istilah Murai Batu Muda Hutan yang artinya anakan murai batu yang ditangkap dari hutan atau alam.
Pada lomba-lomba burung selanjutnya setelah tahun 2007 ketika saya mulai mengenal kembali dunia lomba burung, kelas murai batu sudah menjadi primadona di dunia lomba bersaing dengan kelas Anis Merah. Dunia penangkaran burung berkicau di Indonesia masih sangat minim, bisa dibilang belum ada BirdFarm atau Penangkar yang maju dalam menangkarkan jenis murai batu sehingga burung yang juara pada masa-masa itu ya tentunya adalah murai batu yang berasal dari muda hutan yang sudah mapan dari sisi umur dan kemampuan berkicaunya. Tapi itu dulu, sekarang bagaimana kenyataannya?
Sudah sekitar 4-5 tahun belakangan ini murai batu sudah sangat langka ada di alam, pemikat atau penangkap burung murai batu di Sumatera sana sudah sangat sulit mendapatkan murai batu hutan dewasa, apalagi yang masih muda hutan, mereka perlu berjalan bahkan 3 sampai 7 hari di dalam hutan yang kadang tidak menghasilkan seekorpun tangkapan murai batu, kenapa? ada beberapa hal. Yang pertama adalah begitu gencarnya penangkapan murai batu di alam, baik dewasa jantan maupun dewasa betina sehingga kemampuan untuk bereproduksi habis dan tidaklah mungkin menghasilkan anakan di hutan sana. Berikutnya adalah perubahan ekosistem daerah, yang tadinya hutan beralih fungsi menjadi lahan produksi semisal kelapa sawit atau karet, belum lagi pembukaan lahan untuk pemukiman. Hilang nya ekosistem alami ini juga mempersempit daerah jelajah murai batu di habitat aslinya. Lalu ada pertanyaan, kog masih banyak murai batu yang disebut muda hutan datang dan membanjiri pasar-pasar burung di Indonesia? nah informasinya, itu adalah burung-burung yang didatangkan dari luarnegeri, masuk lewat kota-kota di Sumatera, lalu dibilanglah murai batu Sumatera. Fakta yang justru terjadi adalah di kota Medan sendiri, penangkarnya malahan kekurangan suplai indukan dan kebanyakan sekarang mendatangkan dari pulau Jawa. Nah lho, jadi kebalik ya, padahal kalau kita cermati baik-baik, kebanyakan murai batu yang katanya murai muda hutan Sumatera itu adalah murai batu dari negara tetangga semisal Vietnam.
Kita tinggalkan dulu soal murai batu dari negara tetangga itu, sekarang mari kita bahas soal mitos murai batu muda hutan.
Katanya murai batu muda hutan punya mental tempur yang tinggi, sedangkan murai batu tangkaran lebih manja dan kurang mental tempurnya, lalu murai batu muda hutan variasi suaranya lebih bagus, ada lagi mitos bahwa murai batu muda hutan lebih keras volume bunyinya. Kalau itu dikatakan pada masa 10 tahun kebelakang saya percaya, tapi kalau sekarang, wah ya sudah ketinggalan jaman, kenapa, karena dunia Penangkaran saat ini khususnya jenis burung murai batu sudah sedemikian maju, para penangkar sudah bisa memilih indukan baik jantan ataupun betinanya yang mempunyai kualitas mumpuni dari soal bentuk fisik, mental tempur, ditunjang pula dengan teknik mastering anakan yang membuat variasi lagu mampu dibawakan secara tuntas dan lugas sampai pola rawat yang sedari muda dilatih agar memiliki stamina dan durasi kerja yang teruji. Dan ini sudah terbukti. Sudah sangat banyak murai batu hasil tangkaran yang menjadi jawara-jawara level nasional. Sebetulnya trend ini sudah berlangsung sekitar 4-5 tahun yang lalu juga, hanya sayangnya, banyak pemain burung yang justru melepas ring burung murai batu lombanya hanya karena tidak ingin diketahui oleh orang lain, hasil tangkaran BF yang mana yang anakannya bisa menjadi jawara. Sungguh sangat disayangkan adalah para penangkarnya, yang seharusnya mendapatkan nama malahan dihilangkan jejaknya oleh para pemain lomba sehingga seakan-akan itu adalah burung murai batu muda hutan, padahal itu adalah murai batu hasil tangkaran yang dicopot ringnya. Sungguh ironis.
Hadirnya Asosiasi Penangkar Burung Nusantara (APBN) pada tahun 2018 lalu adalah angin segar yang menghembuskan semangat para penangkar burung endemik Indonesia. Lomba-lomba yang akan digelar ditahun-tahun mendatang oleh Event Organizer (EO) besar di seluruh Indonesia akan penuh dengan agenda lomba yang mewajibkan kelas burung murai batu yang memakai ring sebagai identitas burung hasil tangkaran. Selain karena tuntutan kedewasaan sebagai Kicau Mania yang peduli kaidah konservasi, juga sudah menjadi ketentuan dari organisasi EO sebesar Ronggolawe Nusantara untuk mengadakan gelaran-gelaran yang mewajibkan adanya kelas ring di eventnya. Untuk para pemain lomba, tentunya akan sangat rugi untuk membeli murai batu yang tidak menggunakan ring karena kedepan, kelas burung murai batu yang akan banyak di lombakan dan menjadi kelas utama adalah murai batu tangkaran yang menggunakan ring.
Kalau mitos ini sudah terbukti salah, dan merugikan, lantas kenapa masih membeli tangkapan alam atau murai luarnegeri? untuk Kicau Mania yang dewasa dan cerdas tentu sudah tahu jawabannya. Salam Konservasi.
(red/Rho220).