Penulis Piagam yang Kalem dan Tidak Banyak Bicara Dari RN DPW Jateng V

332

Ronggolawe Nusantara DPW Jateng V – Apapun profesinya, apapun pekerjaannya, selama itu halal dan ditekuni, Insyaa Allah rejeki akan menyertainya. Begitu juga dalam kegiatan lomba burung, ada yang disebut  IP, korlap, juri,  pelayanan tiket, tukang parkir, sampai dengan penulis piagam. Profesi yang terakhir disebut adalah profesi yang (mungkin) tidak diperhitungkan oleh kabanyakan orang dan jika diruntut dari depan , mulai dari pemesanan tiket, Penulis piagam adalah pangkalnya kegiatan.

Pernahkah Anda pamer piagam kepada teman-teman Anda ? Tahukah Anda, tulisan siapa yang Anda pamer-pamerkan ? Anda mungkin tidak menyadari bahwa piagam yang Anda pamerkan adalah tulisan seseorang yang mungkin tidak dianggap keberadaanya. Padahal hasil akhir dari sebuah kompetisi adalah piagam, simbol pengakuan kemenangan.

Lahir 57 tahun yang lalu, Sosok penulis piagam ini termasuk salah seorang keluarga besar Ronggolawe Nusantara DPW Jateng V. Mulai menulis piagam dari tahun 2008 sampai dengan sekarang. Karena kesetiaan, tanggung jawab,  dan loyalnya, maka Dia dipercaya untuk menulis piagam di dua lapangan, Kaligung BC dan Sampurna BC.

Om Slamet, begitulah panggilannya. Laki-laki kelahiran Pagongan Tegal ini, setiap Kamis dan Minggu selalu rajin datang ke tempat Dia bertugas menulis piagam, bahkan kehadirannya paling awal dibandingkan dengan panitia yang lain, bahkan selama latber belum di mulai, Om Slamet ini ikut membantu petugas tiket dalam melayani penjualan tiket.

Pembawaanya yang kalem, ramah dan jarang bicara ini, menjadikan Om Slamet banyak disukai oleh Kicau Mania, terutama peserta yang akan mengambil piagam. Selain tulisannya termasuk dalam kategori bagus, rajin, juga berkas-berkas maupun kertas-kertas arsip selalu tertata rapih, “Biar dalam mencari arsip-arsip yang diperlukan, mudah dan cepat”, demikian katanya.

Kesulitan membaca identitas juara adalah hal yang biasa, apalagi nama-nama peserta sekarang “aneh-aneh”, katanya. Tidah hanya nama yang aneh, tulisan pun sering sulit dibaca. Namun dengan ramahnya Om Slamet menanyakan langsung kepada peserta, “Ini huruf apa Mas… ?”.

Suka duka dalam menulis piagam banyak dialami oleh Om Slamet, sukanya adalah, Dia bisa berekspresi melalui tulisannya, bertemu dengan berbagai sifat dan sikap banyak orang. Sedangkan dukanya adalah, ketika even sudah selesai tetapi masih banyak piagam yang belum selesai ditulis.