Om Fu Tristanto Mempunyai Kiat – Anggota APBN Korwil Jateng V

Mediaronggolawe.id – Tren dunia usaha yang berkaitan dengan hobi, menjadi sangat marak beberapa tahun belakang ini. Masih segar dalam ingatan kita ketika muncul dunia usaha dalam bidang tanaman hias. Munculnya  beberapa jenis tanaman hias yang mencapai harga puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Tak ada bedanya dengan dunia kicau mania, terdapat peluang usaha dari kicauan jika ditangani dengan serius.

Berawal dari hobi memelihara burung murai batu dan mengikuti berbagai even/ lomba, Sosok Laki-laki ini mulai melirik adanya bisnis dalam dunia perburungan, yaitu dengan beternak murai batu. Beberapa referensi telah didapatnya, mulai dari mendengarkan/ diskusi dengan para peternak murai batu, membaca buku-buku yang berkaitan dengan cara beternak, sampai dengan bertanya dan membandingkan cara-cara beternak dari beberapa orang yang telah berhasil. Dari beberapa pendapat itu lah, akhirnya Om Fu Tristanto mulai mewujudkan keinginannya beternak murai batu.

Persiapan Kandang

Tanpa harus mengeluarkan modal besar untuk mencari lokasi, karena memang Om Fu sudah mempunyai tempat yang kebetulan berlantai dua, dibagian bawah dijadikan sebagai tempat usaha, sedangkan lantai dua adalah tempat yang akan dijadikan sebagai kandang ternaknya. Dengan menyesuaikan ukuran bangunan yang sudah ada, Om Fu mulai merancang ukuran kandang. Jadi lah 5 (lima) kandang ternak  dengan ukuran masing-masing, tinggi 3 meter, panjang 2 meter, dan lebar 1,17 meter. Bagian belakang tiap kandang ditempel wallpaper pemandangan, sedangkan dinding pemisah antar kandang menggunakan hebel, bata putih press. Dinding depan terbuat dari kawat ram dengan ukuran lubang 1 cm. Di dalam kandang, dibuatlah kolam air yang dalamnya sekitar 3-4 cm, dan dilengkapi dengan pancuran air yang selalu mengalir. Air dalam kolam selalu bersih karena pompa sirkulasi dilengkapi dengan filter. Bagian lantai kandang diberi pasir, dan sedikit gamping sebagai pembunuh bakteri.

Persiapan Induk Murai Batu

Untuk persiapan induk, Om Fu yang akrab dipanggil dengan sebutan Om Aping ini tidak terlalu repot, karena memang sudah mempunyai beberapa burung untuk dijadikan sebagai induk, pejantan,  yang notabene burung-burung itu sering diikutkan Om Aping dalam kontes, dan burung-burung itu bukan burung sembarangan, melainkan burung yang berkualitas kelas lomba besar. Yang sedikit agak merepotkan, adalah mencari pasangan. Dia harus mencari beberapa induk betina yang juga berkualitas. Sebagai pendiri RPM, Republik Pecinta Murai Batu, tidak susah mencari induk betina, relasi dari komunitas RPM selalu siap untuk mencarikan pasangannya.

Setelah semua siap mulai dari kandang dan kelengkapannya termasuk “penghuninya”, tepat malam pergantian tahun 2018 – 2019, 5 (lima) pasang ekor induk murai batu dilepas di kandang ternak. Sampai sekarang (ketika artikel ditulis 17 April 2019), ternak murai batu Om Fu Tristanto, dari lima pasang,  sudah menghasilkan 15 ekor trotol/ anakan. Jadi setelah menetas usia 6-7 hari, anakan/ trotolan dipisah dari induknya selanjutnya trotolan diloloh oleh Om Fu sendiri, sampai anakan bisa makan sendiri.

Om Fu Tristanto yang mempunyai usaha di bidang celluler ini, termasuk salah satu anggota APBN, Asosiasi Penangkar Burung Nasioanl, dari Korwil Jateng V. Hal ini terbukti dengan dipasangkannnya ring/ cincin yang berkode/ barcode pada hasil ternakannya, dengan sendirinya setiap anakan dari ternak Om Fu mempunyai sertifikat (akte-red).

 

 

 

 

 

Anakan Murai Batu umur 2 bulan

Tidak banyak dalam waktu lebih kurang 4 bulan, peternak murai batu langsung berhasil. Artinya semua induknya bisa bertelur dan menetas. Dalam kesempatan ketika Om Fu tristanto bincang-bincang dengan penulis (media-red) di depan kandang ternaknya sambil ngopi, penulis mengajukan beberapa pertanyaan, “Apa ilmunya dalam waktu singkat, bisa menghasilkan sampai 15 ekor ?”. “Tidak ada ilmu khusus, saya hanya mengikuti cara-cara peternak sebelumnya, dan hanya dengan sedikit saya variasikan antara peternak yang satu dengan peternak yang lain.” Jawab Om Fu Tristanto. “Selain itu, saya suka duduk berlama-lama di depan kandang, sambil memperhatikan sifat dan karakter burung.”.  “Apa saran Om Tristanto kepada pembaca, agar bisa mengikuti cara-cara beternak Om Fu ?”. “Yang terpenting adalah, jangan merasa malu untuk menerima nasihat orang lain, jangan malu belajar/ bertanya, dan jangan merasa pintar”. Demikian jawab Om Fu Tristanto sambil mengantar penulis turun dari kandang untuk berpamitan pulang. Nomor kontak Om Fu Tristanto (+62 812-2999-1111).  (yus-tegal)