Mengenal Sistem Penilaian Resistian Secara Lebih Dalam

1008

“Dari awal saya bersusah payah membangun Ronggolawe Nusantara (RN) dengan dukungan dari semua pihak tentunya. Jadi setiap langkah dan keputusan yang saya buat, itu saya maksudkan untuk kebaikan RN termasuk Resistian. Kalo memang ada kekurangan, mari kita duduk bersama, diskusi, mencari solusi untuk menutupi kekurangan tersebut. Sebaiknya tidak hanya mengkritik, menunjukan kekuranganya ini dan itu tanpa memberikan solusi. Saya yakin Resestian itu baik dan solusi tepat untuk penjurian” tegas Kang Ebod menyikapi adanya beberapa penolakan Resistian terutama dari internal Ronggolawe sendiri.

Kang Ebod akan terus memberikan yang terbaik untuk Ronggolawe Nusantara (Foto Dok. Ebod Joss Bird Champoinship)

Yang mendasari lahirnya Resistian adalah dua hal yang selama ini menjadi keresahan Kang Ebod. Pertama adalah lomba yang terlalu lama, setiap lomba dua lapangan biasanya akan selesai larut malam. Merurut Kang Ebod  itu karena durasi proses penilaian yang terlalu lama (penilaian, perumusan ajuan juri, penancapan bendera nominasi, koncer), terakumulasi dari setiap kelas akibatnya lomba akan berjalan lama dan selesai larut malam. Akibatnya sesi-sesi terakhir pasti akan kurang maksimal dari segi penilaian maupun kualitas burung yang dilombakan. Hal itu karena juri dan burung yang dinilai sudah kelelahan, konsentrasi dan staminanya pasti sudah menurun. Dari jumlah peserta biasanya juga akan kurang maksimal, menurun untuk kelas-kelas burung tertentu.

Yang kedua adalah Kang Ebod mendengar adanya opini negative terhadap penjurian RN, bahwa setiap lomba juara hanya ditentukan oleh Korpap atau IP saja. Jadi untuk juara di RN hanya perlu kita “pegang” Korlap atau IP saja, opini ini yang perlu dirubah menurut Kang Ebod.

“Satu system bisa menyelesaikan dua masalah menurut saya. Dengan Resistian bisa sangat menghemat waktu, terbukti di beberapa lomba terakhir di Cibubur dan acara Kopdar Kacer di Bekasi. Juga bisa merubah opini pemain karena sekarang semua keputusan koncer ada di tangan juri. Bukan saya sudah tidak percaya dengan Juri, Korlap atau Ip, kita lihat setiap lomba RN selalu diminati pemian, terlihat dari jumlah tiket terjual berarti sebenarnya pemain masih percaya dengan lomba RN. Namun kita adalah penyedia jasa (penjurian) kita harus terus berinovasi bagaima cara memuaskan para penguna jasa kita. Dengan Resistian paling tidak kita sudah menunjukan bahwa ada langkah nyata dari kita untuk terus menjadi lebih baik. Juga supaya tidak bosan jalan monoton begitu saja” jelas Kang Ebod

Dua hal yang menjadi keresahan Kang Ebod diatas memang harus ada solusinya, namun kenapa harus Resistian. Sebelum semua dijawab ada baiknya kita lihat kebelakang bagaimana perkembangan Resistian dari lomba ke lomba.

Sistem blok di Metro Bird Festival, ide om Hery yang menjadi awal perkembangan terciptanya Resistian. (Foto Dok. Metro Bird Festival Lampung)

Perkembangan Resistian

Terciptanya Resistian tak lepas dari peran Om Heri Aryanto mantan Ketua DPW Ronggolawe Lampung. Dari Om Heri ide awal Resesitian berasal, di event Metro Bird Festival korlap sudah memegang blok. Kemudian berlanjut di Bekasi saat Piala Indonesia. Dari event ini Resistian berawal dan terus disempurnakan. Di dua event ini sudah diterapkan Korlap mengawasi blok masing-masing namun ada IP yang keliling dan masih menggunakan pengajuan juri.

“Saat di lampung dan Bekasi masih seperti system lama, dengan pengajuan juri dan ada IP yang keliling. Namun sudah korlap sudah memegang blok masing-masing agar lebih teliti dalam memantau kelebihan dan kekurangan burung di bloknya. Namun Kang Ebod masih belum merasa puas dan masih ingin menyempurnakanya, terutama soal waktu dan ajuan juri” ujar Om Aan Ronggo ketua DPW Bekasi Raya yang dari awal selalu ikut mengawal setiap perkembangan Resistian, termasuk saat di Lampung juga ikut mengawal jalanya lomba Metro Bird Festival.

Om Aan Ronggo – terus mengawal dan ikut menyempurnakan Resistian.

Resistian berlanjut di Piala Wali Kota Bekasi 2, namun tidak berjalan maksimal karena gangguan cuaca angin yang bertiup sangat kencang. Sehingga dari sisi pelaksanaanya juga kurang maksimal, bahkan panitia harus melepas terpal tenda dan lomba berjalan tanpa atap tenda.

“Dengan system blok (Resistian) saat di Lampung dan Bekasi sangat meringankan kerja korlap, setiap burung lebih terpantau, catatan korlap lebih detail. Jadi setiap pertanyaan dari pemain bisa dijawab dengan baik apa  kelebihan dan kekurangan burungnya. Walau awalnya saya kurang setuju, tapi saya tetap memantau dan berdiskusi dengan Om Aan Ronggo. Terakhir di Piala Walikota Bekasi sudah pake ajuan Korlap, tapi memang karena kondisi cuaca jadi lomba berjalan kurang maksimal. Resistian akan terlihat jelas perbedaanya saat kondisi full gantangan. Kalo full gantangan akan sangat terlihat efesiensinya, seperti saat acara Kopdar Kacer P2HP di Bekasi” ujar om Keny salah seorang korlap senior yang pada awalnya menolak keras penerapan Resistian. Akan tetapi Om Kenny juga ikut mengawal perkembangan Resistian karena sejak awal ikut bertugas di lomba Metro Bird Festival Lampung dan setiap lomba di Bekasi.

Om Kenny – Sempat keberatan, namun terus memantau setiap perkambangan Resistian, mencari kelemahan yang ada untuk mencari solusinya.

APBN Award dan Ebod Joss Bird Championship menjadi momentum Resistian, hasil evaluasi dan perbaikan dari event sebelumnya, pada event kali ini sudah digunakan ajuan korlap.

“Di APBN Award Resistian sudah diterapkan ajuan dari Korlap, Juri yang menentukan koncer, namun masih menggunakan nominasi. Lomba berjalan tidak sampai larut malam, namun menurut Kang Ebod masih kurang efektif, waktu masih terlalu lama.  Akhirnya di gelaran berikutnya Ebod Joss Bird Championship semua diperbaiki. Menggunakan nominasi tertutup, tidak ada lagi bendera nominasi dari korlap. Benar-benar efektif, sebelum Maghrib gelaran sudah selesai. Soal kepuasan pada penjurian itu relatif, tapi kami akan terus berbenah memperbaiki semua kekurangan yang ada. Tapi minimal systemnya sudah baik dan bisa memangkas durasi waktu dengan sangat significan” ujar om Bewok Ronggo selaku ketua DPW Ronggolawe Nusantara DKI raya.

Om Bewok Ronggo – event-event terakhirnya dijadikan kelinci percobaan Resistian dan berhasil bersama Kang Ebod kerap berdiskusi untuk terus memperbaiki Resistian (Foto Dok. Ebodjoss Bird Champoinship)

Resistian terus dibenahi, di Kopdar Kacer P2HP Bekasi Om Aan Ronggo menerapkan pembagian penilaian awal, tengah akhir. Dimaksudkan supaya semua tahu batasan penilaian masing-masing sesi. Pembagian batasan durasi waktu penilaian (penialian awal, tengah dan akhir) menggunakan bendera, setiap awal sesi penilaian korlap akan menancapkan bendera dengan warna tertentu ditempat yang telah ditentukan. Gelaran berjalan lancar total dua puluh tujuh sesi ( 25 kelas umum, 2 kelas BOB) dimainkan. Start awal mulai pukul 11.00 wib dan selesai sekitar pukul 17.00 wib (sebelum maghrib).

Sampai saat ini banyak pemain yang sudah paham, dan mau menerima Resistian. Namun tidak sedikit pula yang masih ragu begitu juga dari internal RN sendiri. Ragu kenapa harus Resistian dan apakah mungkin bisa diterapkan. Dari internal RN sendiri juga muncul pertanyaan kenapa harus dishare di media bagaimana Resistian dijalankan, bukankah sudah cukup jalankan saja, mengenai bagaimana penerapan Resistian itu berjalan cukup internal RN saja yang tahu.

Bukan hal mudah untuk memperkenalkan system baru, banyak penolakan dengan pertanyaan dan oponi yang beredar. Diantaranya opini dan pertanyaan yang beredar adalah :

  • Juri Cuma jadi boneka, karena korlap yang mengajukan burung terbaik yang layak koncer. Jadi juri tinggal tancep bendera koncer ABC saja
  • Enak jadi juri Ronggolawe, cuma tinggal banding-banding 12-20 burung dari pengajuan korlap saja.
  • Kalo begitu, bagaimana juri bisa pinter. Semua ditentukan oleh korlap, juri tinggal banding-banding burung ajuan korlap saja. Ini namanya kemunduran.
  • Jadi semakin gampang untuk main curang di lomba, tinggal pegang juri untuk ngoncerin bendera.

Tetapi semua pemikiran itu akan hilang saat kita sudah paham apa itu Resistian dan bagaimana system tersebut dijalankan.

Disinilah ciri khas Kang Ebod yang selalu mengaku sebagai bakul sangkar, pakan dan vitamin burung. Kang Ebod akan selalu mempertahankan apa yang menurutnya baik, tapi akan selalu menerima masukan untuk memperbaiki apa yang ia yakini sudah baik tadi agar menjadi semakin baik.

“Bagaimana pemain mau percaya dengan Resistian, kalo pemain tidak tahu dan tidak paham. Jadi biarkan saja mereka tahu bagaimana dan apa itu Resistian. Kita jelaskan kelebihanya dan bila nanti dari luar ada masukan soal kelemahanya maka tugas kita bersama untuk dapat memberi solusi yang tepat, bukan malah sebaliknya. Soalnya saya yakin system ini akan sangat bagus untuk dijalankan dengan penyempurnaan nanti kedepan, pastinya dengan dukungan semua pihak” ujar Kang Ebod menanggapi pertanyaan kenapa Resistian harus disebar luaskan (apa dan bagaimana cara kerjanya).

Resistian terus disempurnakan dari hasil evaluasi setiap event. Di kantor Ebod Nanjung 105, bersama setiap orang yang datang terutama Om Aan Ronggo dan Bewok Ronggo yang beberapa eventnya dijadikan “kelinci percobaan” system Resistian, Kang Ebod terus berdiskusi untuk menyempurnakannya.

Dari internal RN sendiri Resistian belum bisa diterapkan begitu saja ditingkat latberan disetiap DPW, ini disebabkan oleh berbagai hal. Seperti yang banyak diungkapkan masing-masing DPW saat menghadiri Rakernas Pertama  di Hotel Lorin Sentul. Banyak pertanyaan dan kekhawatiran dengan penerapan Resistian.

“Masih banyak kekhawatiran yang mereka buat sendiri, kalo begini kalo begitu terutama masalah teknis penjurian. Apalagi untuk diterapkan di tingkat latberan masih banyak keberatan, sebenarnya bisa saja. Justru akan meningkatkan kemampuan juri yang harus sudah diasah sejak level latberan. Tapi saya paham, keberatan utama untuk diterapkan di tingkat latberan yang menjadi masalah utama adalah soal honor, pasti akan memberatkan kalo menambah jumlah korlap” ujar Kang Ebod mengenai banyaknya DPW yang menolak saat di Rakernas.

Menyikapi banyaknya keberatan tersebut Kang Ebod menyatakan bahwa Resistian tidak harus diterapkan di latberan masing-masing DPW. Akan tetapi untuk DPW yang sudah siap diharapkan bisa menerapkan Resistian, terutama untuk lomba besarnya.

Begitulah perkembangan Resistian, kemudian mengenal lebih jauh mengenai Resistian adalah sebagai berikut :

Mengenal Resistian lebih dalam.

  • Yang perlu diketahui bahwa Resistian adalah system atau alur proses pencarian burung terbaik, bukan pakem penilaian. Pakem penilaian yang digunakan tetap menggunakan Pakem Ronggolawe Nusantara (Irama Lagu, Durasi Kerja dan Gaya).
  • Resistian sangat berbeda dengan system yang lama. System lama juri yang mengajukan korlap yang menentukan, sedangkan Resistian korlap yang mengajukan juri yang menentukan.
  • Petugas di dalam lapangan terdiri dari Juri, Korlap, Leader. Tugas juri dan korlap sudah jelas seperti lomba pada umumnya. Leader bertugas mengawasi jalanya penilaian (langkah juri dan durasi waktu penilaian untuk memberi tanda sesi waktu penilaian awal, tengah, akhir). Leader harus mampu menguasai jalanya lomba, memastikan semua proses penilaian berjalan lancar, mampu berkomunikasi dengan dengan baik dengan korlap dan juri.
  • Penilaian akan dibagi menjadi empat tahap penilaian, awal, tengah, akhir dan banding-banding dengan satu tahap persiapan awal :

1. Persiapan awal, juri dan korlap akan mulai menilai 30detik selelah semua burung digantangkan. Hal itu seperti biasa dimaksudkan untuk memberi kesempatan burung yang nakal, bagong, didis, ngering dan pelanggaran lainya saat awal digantang. Juri dan korlap sudah stanbay berada di sisi lapangan (belum masuk lapangan).

2. Penilaian awal, juri dan korlap akan memulai menilai. Penilaian berjalan seperti bagaimana umumnya penialain selama ini. Ditahap ini setiap pelanggaran burung (bagong, turun, ngeban) sudah langusung diberlakukan diskualikasi.

3. Penilaian tengah, berjalan seperti bagaimana umumnya penialain selama ini.

4. Penialian akhir, berjalan seperti biasanya. Korlap akan mempersiapkan pengajuan burung terbaik di bloknya masing-masing. Di akhir tahap ini korlap akan memberikan ajuan burung-burung terbaik dibloknya masing-masing kepada juri. Dalam tahap ini tidak ada diskusi, korlap hanya perlu menunjukan ajuanya saja. (dari awal sampai akhir juri dan korlap dilarang berkomunikasi)

5. Banding-banding, setelah mendapat ajuan dari masing-masing korlap juri akan membandingkan burung-burung tersebut. Tentunya berdasarkan catatan dari juri masing-masing. Disesi ini langkah juri sudah bebas, tidak lagi menggunakan blok dorong. Posisi korlap berada di pinggir lapangan, sudah tidak lagi memantau burung. Setelah semua selesai banding-banding penilaian selesai dan koncer.

  • Masing tahap penilaian akan diberi tanda, setiap korlap akan menancapkan bendera sesuai dengan warna yang ditentukan sebagai tanda tahap awal durasi waktu penialian dimulai. Leader akan memberi aba-aba kepada korlap setiap tahap waktu durasi penialaian berakhir. Leader harus memastikan setiap tahap penilaian telah berjalan baik dengan selalu berkordinasi dengan korlap dan juri
  • Juri menilai dan mencari burung terbaik dalam satu lapangan (77 gantangan), dengan langkah juri tetap menggunakan Blok Dorong. Korlap hanya mengawasi bloknya masing-masing (satu korlap satu blok). Satu blok terdiri dari 21-28 gantangan.
  • Di akhir tahap penilaian akhir, korlap akan memberikan ajuan burung terbaik (3-4 burung atau tidak samasekali apabila memang tidak ada yang layak) di masing-masing bloknya kepada juri. Kemudian disesi banding-banding juri akan membandingkan ajuan korlap dari masing-masing blok untuk burung yang layak koncer. Disesi banding-banding korlap sudah stanby berada di pinggir lapangan dan juri langkah bebas untuk membandingkan burung-burung ajuan korlap. Harus dipastikan komunikasi juri dan korlap hanya terjadi di akhir sesi penilaian, pengawasan ini juga menjadi tangung jawab leader untuk mengawasinya.
  • Setetelah banding-banding selesai korlap akan mengambil lembar kerja juri dan juri akan mengoncer burung pilihan masing-masing.

Dengan penjelasan diatas seharusnya sudah cukup menjawab opini dan pertanyaan diatas tadi. Namun untuk lebih jelasnya Kang Ebod bersedia menjawabnya.

“Juri Cuma jadi boneka, karena korlap yang mengajukan burung terbaik yang layak koncer. Jadi juri tinggal tancep bendera koncer ABC saja”

Dengan Resistian justru sebaliknya juri akan memegang kendali penuh untuk mengoncer burung yang menurutnya layak. Juri bukan lagi boneka yang pengajuanya bisa dikembalikan oleh korlap. Juri akan memegang kendali penuh untuk menentukan burung terbaik. Korlap mengajukan burung terbaik dibloknya. Misal masing-masing 3 burung, ada 4 blok berarti ada 12 burung. Dari 12 burung tersebut untuk koncer ABC nya semua mutlak ada ditangan juri.

“Enak jadi juri Ronggolawe, cuma tinggal banding-banding  burung dari pengajuan korlap saja. Kalo begitu, bagaimana juri bisa pinter, semua ditentukan oleh korlap, juri tinggal banding-banding burung ajuan korlap saja. Ini namanya kemunduran”

Resistian akan menuntut juri bekerja dengan sunguh-sungguh mencari mana burung terbaik. Juri tetap menilai dan mencari burung terbaik dari awal sampai akhir dari semua gantangan. Karena logikanya apabila juri tidak menilai burung dari awal bagaimana juri akan mempunyai catatan dan bisa banding-banding mencari burung terbaik dari ajuan korlap. Karena ajuan korlap akan diberikan diakhir sesi penilaian.

“Jadi semakin gampang untuk main curang di lomba, tinggal pegang juri untuk ngoncerin bendera”

Apabila ada pemain yang ingin bermain curang maka tidak akan mudah, karena harus berkordinasi dengan banyak pihak (banyak juri dan banyak korlap). Berbeda dengan system sebelumnya yang katanya hanya cukup dengan satu orang Korlap atau IP saja. Juri akan sangat berhati-hati dalam menentukan koncer, karena apabila ada satu mencar sendiri tertama koncer A maka akan jadi pertanyaan dan juri harus dapat memberi alasan yang jelas. Setiap system pasti nantinya mempunyai kelemahan tapi minimal kita terus berusaha untuk menutupinya.

Jadi Resistian sangat efektif dari segi waktu dan diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan pemain . Untuk juri ini akan benar-benar mengasah mental dan ilmu dalam menilai burung. Juri harus benar-benar bisa menentukan burung terbaik ajuan korlap, karena tidak akan ada koreksi dan pengajuan balik dari korlap. Walaupun hanya banding-banding dari pengajuan korlap namun apabila dari awal sampai akhir tidak punya catatan dari burung-burung tersebut, juri tidak akan dapat menentukan dengan tepat mana yang burung terbaik. Serta  karena tidak akan ada pengajuan balik dan koreksi dari korlap, evaluasi mental dan kemampuan juri langsung saat itu juga dilapangan. Apabila salah menilai efeknya akan salah koncer (koncer sendirian) akan langsung dilihat oleh semua pemain. Berbeda dengan system sebelumnya, apabila salah pengajuan masih bisa dikembalikan oleh Korlap dan hanya korlap yang mengetahui kesalahan tersebut. Memang akan dieveluasi dan diberikan pengarahan diakhir lomba, namun efeknya akan kurang terasa apabila juri yang bersangkutan keinginan untuk majunya kecil. Resistian akan memaksa juri untuk belajar dan maju karena tidak akan ada koreksi dari Ip/Korlap, apabila kemampuan dan mental juri kurang makan akan sangat terlihat dilapangan.

Beberapa tanggapan mengenai Resistian.

“Dari segi waktu sudah pasti sangat efesien. Untuk juri ini sangat bagus, mengasah kemampuan dan mental, memaksa juri untuk terus berkembang. Juri dipaksa untuk mau belajar, karena hanya akan ada dua penyebab kesalahan juri di Resistian. Pertama juri nakal yang kedua juri tidak mampu. Akan langsung terlihat saat itu juga” Om Aan Ronggo ketua DPW Bekasi Raya.

“Resistian bagus, akan dapat meningkatkan kepercayaan pemain. Dari sisi waktu juga jadi sangat efesien. Tapi harus diperhatikan juri dan korlapnya harus yang benar-benar siap secara kemampuan dan mental” Pa Jank Tisna, DPW Jabar I (Bandung) yang juga senior di penjurian RN yang mencetuskan system Blok Dorong.

“Sangat memudahkan kerja juri dan korlap, tapi harus diperhatikan kemampuan jurinya. Harus benar-benar mempunya kemampuan exstra, harus focus dari awal sampai akhir. Lomba nasional minimal 25 sesi, walau hanya membandingkan ajuan korlap tapi kalo konsentrasi sudah menurun bisa fatal juga akibatnya” Om Kenny korlap senior RN.

“Jadi sangat efesien waktu. Kemampuan juri juga jadi benar-benar diasah, akan terlihat mana juri yang mampu atau tidak, mana juri yang mau berusaha belajar atau tidak” Om Agus Kymco korlap senior RN.

“Cepat, tanpa ajuan langsung kocer, biasanya acara kopdar kacer BOB dimainkan jam delapan malam. Ini tadi jam lima sore sebelum maghrib udah selesai. Panitia, juri masih bisa foto bareng dibawah banner usai gelaran lomba. Masih terang” ujar Opa Jefry panitia yang juga salah satu  pemain kacer senior usai acara Kopdar Kacer P2HP Bekasi

“Mantap, intinya penilaian jadi efektif dan cepet. Burung bisa nyimpen tenaga buat sesi berikutnya” ujar Om Mbing ketua P2HP yang juga pemain kacer senior usai acara Kopdar Kacer P2HP Bekasi.

“Penilain cepet, koncer juri yang nentuin, jadi keliatan riil. Ngga ada lagi bolak-balik pengajuan yang kadang suka bikin lama” ujar Om Rudy Algojo salah satu penasehat P2HP

“Ngga ada ajuan balik, semua riil ditangan juri. Biasa kan pake di rumus dulu lama, ini cepet penilaian. Lomba sore udah kelar. Sama ada tanda penilaian awal, tengah, akhirnya jadi kita bisa tau kinerja burung kita” Om Aan Flamboyan, salah satu pemain senior Bekasi.

“Baru kali ini acara lomba, apalagi ada BOB bisa selesai sore. Penilaian cepet, semua juri yang menentukan” H. Edi Garda Team Bekasi, yang saat itu kacernya Predator menjadi juara dikelas Ring

“Enak, kopdar kacer BOB sore udah selesai. Setiap Kopdar BOB biasanya selesai sampai malem” ujar pasukan Anny Bakery yang nanti akan mengelar lomba dengan sistem Resistian juga di Karawang.

Pasukan Anny Bakery – akan mengelar lomba Piala Anny Bakery di Karawang 14 Juli 2019 dengan sistem Penjurian Resistian juga (Dok. Foto Kopdar Kacer P2HP Bekasi)

“Memang bagus, tapi harus benar-benar juri yang siap. Dari mental dan kemampuanya, kalo ngga siap pasti blank, kalo bisa juga di rolling. Juri dan korlapnya. Missal event di Jakarta pake juri Jakarta tapi korlap Bekasi, Tangerang atau sebaliknya. Tapi bagus buat diterapkan, lebih fair semua di tangan juri. Kalo ada juri nekat nakal bisa keliatan” ujar Om Syam Royal Sakura disuatu kesempatan.

“Biasanya penilaian lama, ini jadi cepet lomba ngga perlu pulang malem-malem lagi. Semua juga riil keputusan di tangan juri jadi bisa lebih fair” ujar Om  Joko Emerald, salahsatu pemain senior yang sempat vakum dan mulai turun gunung lagi.

Event Nasional selanjutnya yang dipastikan menggunakan Resistian Piala Canting  (16 Juni 2019 – Pekalongan), Ronggolawe Award (23 Juni 2019 – Cibubur), Piala Ngapak (07 Juli 2019 – Banyumas) , Anny Bakery (14 Juli 2019 – Karawang) dan Piala Gunung Jati (18 Agustus 2018 – Cirebon).