Kontes Burung Berkicau Sistem Loss Gantangan Diatur EO

74
Contoh Brosur Loss Gantangan Dengan Ketentuan EO

Mediaronggolawe.id – Munculnya berbagai persepsi seputar pemberlakuan sistim Loss Hadiah atau juga popular dengan Loss Gantangan, semakin menarik perhatian. Sistem lomba burung berkicau loss gantangan, bisa disebut sebuah terobosan dalam menggairahkan lomba dunia kicau walaupun terkesan kontroversi dan sangat beresiko terhadap penyelenggara lomba atau Even Organizer, sementara di pihak pemain sangat diuntungkan.

Sukardi ketua DPW Ronggolawe Sulutenggo salah satu penggagas Losgan yang akhirnya popular di Indonesia, ketika ditemui Mediaronggolawe.id menyebutkan, sebenarnya Loss gantangan ini semangatnya adalah upaya menjamin kepuasan kicau mania, ketika mengikuti lomba dengan tetap mengeluarkan hadiah untuk juara pertama, berapapun peserta yang ikut pada setiap sesi kontes yang diselenggarakan oleh EO.

“Untuk ketentuan awal yang saya buat sejak dulu dan lahirnya juga dipergunakan oleh kawan-kawan yang lain ketika menyelenggarakan even kicau, yakni hadiah untuk juara pertama tetap keluar berapapun jumlah peserta yang ada, bukan hadiah untuk semua kategori juara yang keluar,” jelas Kardi.

Selanjutnya Kardi yang telah memiki banyak pengalaman menyelenggarakan kontes burung kicau, mulai dari Latberan, Latpres maupun Cup ini, kembali mengaskan bahwa EO sebagai pemilik atau penyelenggara kegiatan, bertanggung jawab penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan sekaligus memiliki hak terhadap aturan-aturan perlombaan. “Disini yang harus ditegaskan bahwa dalam setiap kegiatan itu ada aturan masing-masing EO mulai dari pendaftaran, menggantang, penjurian, bahkan pemberian hadiah. Yah mau Lossgan ataupun persentase itu adalah hak EO dan pemain atau kicau mania tinggal memilah dan memilih mana yang menguntungkan dan berpeluang untuk juara,” sergah pria asal Klaten yang berkeahlian rancang bangun berbagai model tenant ini.

Mencermati perkembangan kicau mania di Sulut khususnya, Kardi menyebutkan sudah memiliki banyak kemajuan yang ditandai persaingan-persaingan yang sehat antar sesama pemain baik Single Fighter maupun yangb tergabung dalam Bird Club (BC). “Jika dulu kita Latberan masih campur-campur burung dan masih sedikit, kini hampir setiap kategori lomba selalu ada peserta, apalagi di kelas Lovebird, Cucak Hijau, Kacer, Pleci, Kolibri maupun Murai Batu. Soal senang atau tidak untuk setiap hasil lomba, itu relatif. Tetapi yang terpenting Kicau Mania semakin banyak dan berkembang serta berpotensi menunjang program pemerintah baik pariwisata maupun pelestarian satwa dengan upaya penangkaran, seperti yang sering dipesan oleh Kang Ebod dan Mas Culik selaku para punggawa Ronggolawe Nusantara,” tegasnya. (mei)