Kembali Orbitan New Rocket, Pengganti Amunisi Yang Tlah Tiada

90

Kudus – Awak media Ronggolawe.id menelusuri salah satu juri Ronggolawe Nusantara yang juga bermain burung ekor panjang. Sosok tersebut adalah Fero Setyo Anggoro, juri yang diklat di Pekalongan angkatan VI ini juga tak asing di berbagai event nasional. Pernah menjabat sebagai Kabid Humas DPW Jateng II kualitas beliau sudah tak perlu ditanyakan lagi, event-event bergengsi pun sudah pernah ia lakoni dalam tugas sebagai juri maupun sebagai peserta lomba.

Kembali Orbitkan Murai Batu New Rocket Berharap Bisa Tampil Seperti yang Dulu

Bermain burung bersama orang tuanya sejak tahun 2008 yang saat itu sedang boomingnya Cucak Hijau dan Kacer, dengan bimbingan Om Donz Jepara berhasil raih prestasi yang cukup membanggakan kala itu. Seiring berjalannya waktu, om Fero mulai labuhkan hatinya pada burung ekor panjang. Mulai belajar dari jual beli Murai Batu, pada tahun 2013 serta jaringannya yang semakin luas, membuatnya mengerti karakter burung satu ini semakin mapan. Pada tahun 2014 beliau mulai terjun pada lomba-lomba bergengsi. Menimba ilmu di Boyolali bersama om Beny Sunarto, kini dalam menyetting gacoannya semakin ahli. Terbukti Rocket yang dulu menjadi primadona di pantura dan sempat dirawat dengan harga cukup tinggi jadi bukti bisu keahlian dalam menyetting amunisi, namun sayangnya umur yang sudah tak muda lagi membuat sang amunisi mati karena umur.

Ditunjuk sebagai IP, Muria Cup Berlangsung Lancar dan Sukses

Kesibukan menjuri di EO Ronggolawe Nusantara membuat keseharian yang sebagai pegawai ini semakin sibuk, sudah dalam membagi waktu dia putuskan untuk merawatkan amunisinya macam Murai Batu,Cucak Hijau, serta Kenari kepada rekan-rekan yang dipercayai. Sukses dengan Ronggolawe Nusantara, menjadi salah satu kunci sukses pakem penilaian Lovebird kala itu dengan menggunakan aplikasi Tab. Event-event seperti Piala Kretek, Piala Borobudur, Piala AE semuanya sukses digelar. Terlebih dalam event Muria Cup di gantangan KNP Kudus pun dia dipercaya menjadi IP dalam lomba siang itu, alhasil semua kelas hampir full gantangan serta tanpa adanya prostes yang berarti dari para peserta.