Jaga Sikap Netralitas Setiap Bertugas – Juri RN DPW Jateng V

62

Ronggolawe Nusantara DPW JAteng V – Temperamental adalah gaya yang dimiliki Sosok yang satu ini dalam melaksanakan tugasnya. Jangan harapkan senyum apa lagi suasana ramah ketika menjadi pengadil. Berkelahi akan diladeni kalau perlu. Itu kalau di lapangan sebagai seorang juri, tetapi jika di luar lapangan, pria ini sosok yang suka bercanda, dan murah senyum.

Terkenal sangat ramah di luar lapangan, laki-laki yang mempunyai tinggi badan 173 cm ini memang mempunyai senyum yang manis, berkulit putih, ideal untuk dijadikan pacar. Sayang pria ini sudah mempunyai istri dan 2 orang anak. Mochamad Zulkhisani nama lengkapnya, akrab dipanggil Izul, saat ini menjadi juri Ronggolawe Nusantara. Karier sebagai juri diawali tahun 2008, ketika itu menjadi pengadil di Ajib Aaahh BC (cikal bakal Kaligung BC, cikal bakal RN Tegal,red), sampai dengan tahun 2015, kemudian bergabung dengan Ronggolawe Nusantara mulai 2015 sampai sekarang. Banyak pengalaman yang bisa digali dari profesi juri ini, baik suka dan dukanya.

Tugas menjadi juri di berbagai even pernah dilaluinya, Wiladatika Cibubur ( Piala Panglima TNI , Ronggolawe Award, Ebod Bird Champions), Piala Mataram Jogja, Piala Kretek Kudus, Piala BRIMOB Pati, Piala Lawang Sewu Semarang, Piala Canting 1&2, Piala Dawet Ayu Banjarnegara, Piala Aspol Cirebon. Pengalaman di antara even yang tak terlupakan  adalah even Piala Ngapak 1, karena untuk pertama kali menilai burung-burung yang mempunyai klasifikasi burung nasional.

Dalam bincang-bincangnya, Pria yang bergelar Sarjana Gizi, berpesan kepada juri-juri muda, untuk tetap terus belajar dan belajar, jaga sikap netralitas dalam bertugas, jauhi KKN, dan jadikan profesi juri sebagai pekerjaan yang menyenangkan dan sebagai ajang silaturochim, dan jangan lupa untuk selalu  up date  dalam setiap perkembangan penilaian.

Keseharian Pria dengan dua anak laki-laki ini selain memelihara burung, mempunyai usaha keluarga meubeler di daerah Ujung Rusi Adiwerna Tegal, di sela-sela tugasnya sebagai juri, Om Izul sering memberikan wejangan kepada juri-juri muda bagaimana menyikapi pemilik gantangan dalam memberikan honor, untuk selalu ikhlas dan dinikmati apa yang diperolehnya, yang lebih penting adalah tugas dilaksanakan dengan baik dan lancar.

Ketika tidak sedang bertugas sebaga juri, Sang istri Dewi Sosilowati, S.Gz, selalu mengingatkan untuk menyisihkan waktu untuk keluarga. Mas Izul memang masih kolokan kalau di rumah, berbeda kalau di lapangan, temperamen keras kadang muncul. Maka tidak heran jika beberapa peserta sering mendapat teguran bahkan peringatan. Tapi itu lah manusia, siapa pun dan dalam situasi tertentu  bisa berubah sikapnya.