Erwin Sikumbang : Jadi Juri Itu Harus Lepas Beban

110
Erwin Sikumbang, juri Ronggolawe Nusantara DPW Sumsel.

PALEMBANG – Berawal dari pemain burung, Erwin Sikumbang (29) kini menjadi salah satu juri di Ronggolawe Nusantara Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Sumsel. Banyak suka dan duka yang sudah dirasakannya sejak aktif jadi juri pada Juni 2013 lalu.

“Jadi juri itu harus punya mental yang baik. Beban yang ada di pundak harus dilepas. Mau itu burungnya teman, burungnya keluarga atau burung yang dikenal, harus objektif saat penilaiannya. Dan penilaian harus sesuai dengan fakta di lapangan,” kata Erwin Sikumbang saat diwawancarai MediaRonggolawe.Id pada acara Latber di Lapangan Ronggolawe Nusantara Sriwalk, Kamis (7/3/2019).

Juri Ronggolawe Nusantara DPW Sumsel, Erwin Sikumbang, saat melakukan penjurian.

Bapak dua anak ini mengatakan, awal bergabungnya ia menjadi juri di Ronggolawe Nusantara karena ingin memberikan yang terbaik di dunia kicau.

“Ya..walaupun terkadang banyak sekali tekanan yang dialami saat melakukan penjurian, membuat saya dan teman jadi tetap kuat dan jadi terbiasa. Itulah resikonya dalam melakukan pekerjaan ini. Paling hanya teriakan-teriakan saja dari penonton, gak lebih,” jelas Erwin.

Suami dari Desi ini mengaku kadang dibenci pemain burung yang tidak menang. “Tapi ada juga yang senang kalau burungnya menang. Tapi hanya selama perlombaan saja. Kalau selesai lomba, ya gak ada masalah lagi,” ujarnya.

Juri Ronggolawe Nusantara DPW Sumsel, Erwin Sikumbang saat melakukan penjurian.

Erwin menceritakan pengalamannya saat pertama kali melakukan penjurian. “Awalnya pasti gugup ya. Apalagi banyak teriakan dari penonton dan suara burungnya kalah dengan riuhnya penonton. Tapi setelah beberapa sesi lomba jadi terbiasa,” kenangnya.

Menurut Erwin, riuhnya suara penonton memang cukup mengganggu. Namun inilah yang menjadi tantangan tersendiri saat melakukan penjurian. “Makanya harus fokus dengerin suara burungnya. Kalau gak riuh penonton gak asyik juga lombanya. Kalau sangat berisik memang cukup terganggu, dan inilah tugas panitianya terutama pembawa acara untuk menenangkan penonton. Sebagai juri etap fokus saja intinya,” katanya.

Sebagai orang yang sudah enam tahun menyelami dunia penjurian, Erwin merasakan ada perbedaan perlombaan tiap tahunnya. “Dulu ada kelas burung pentet, kolibri wulung dan cucak jenggot. Sekarang sudah gak ada lagi. Kalau sekarang pemain love bird malah tambah ramai,” ungkapnya.

Foto bersama juri Ronggolawe Nusantara DPW Sumsel usai perlombaan.

Selain itu, banyaknya Event Organizer (EO) yang sering mengadakan lomba burung berkicau semakin membuat ramai pecinta burung untuk menggantang jagoannya. “Yang penting dari kami (Ronggolawe Nusantara/red) bisa memberikan yang terbaik selama penjurian,” pungkasnya.