Cukup Disuapi Pisang, Cucak Hijau Doa Ibu Mantab Raih Double Winner Di Sultan Cup IV Madiun

Mediaronggolawe- Memiliki belasan gacoan dikelas cucak hijau dan semuanya jalan dilapangan, merupakan sebuah keistimewaan yang tidak banyak dipunyai ijo mania lainnya. Kedengarannya sih tidaklah masuk akal, dengan jumlah sekian banyak jenis cucak hijau yang dimiliki, kesemuanya prestasi dan stabil.

Kalangan kicau mania bahkan menyebut jenis cucak hijau merupan jenis burung “ sulit “. Tapi hal ini tidak berlaku bagi Andriy Patra Duhdex SF Madiun. Andriy Duhdex SF, memanglah pemain baru dijagad kicauan. Sebelumnya, Andriy Duhdex SF ini getol dalam hobinya dibidang otomotif. Dulu saya paling demen obrak- abrik mobil dan motor, sesuai dengan style yang saya inginkan, kenang Andriy.

Kisah awal terjunnya kedunia perburungan sebenarnya tidak direncanakan sebelumnya. Cuma info dari beberapa temen yang terjun duluan, hobi burung tak kalah menantang. Adrenalin pun langsung terpacu karena merasa tertantang untuk ikutan terjun didunia kicauan.


Ternyata pilihannya jatuh pada jenis burung cucak hijau, jenis yang banyak dihandiri oleh kicau mania karena terkenal akan kesulitan dan ketidakstabilannya dilapangan. Tak tanggung- tanggung, Andriy Duhdex langsung mengkoleksi banyak burung cucak hijau diantaranya Kenik, Anak manja, XXL, Anak Kecil, Titipan, Doa Ibu dan masih banyak lagi.

Uniknya, ditengah- tengah kesibukan pekerjaan, jenis burung yang ia pegang ternyata kesemuanya jalan dilapangan. Bukan hanya jalan, tapi semuanya berprestasi. Cucak hijau yang disebut sebagai burung yang sulit, ternyata tidak benar. Semua tergantung pada cara kita memahami karakter masing- masing burung, tandas Andriy Duhdek SF.


Kendati jenisnya sama, akan tetapi setiap burung berbeda- beda karakternya. Otomatis cara memperlakukannya pun berbeda- beda dan tidak bisa disamakan. Salah satu contohnya adalah cucak hijau Doa Ibu. Doa Ibu saya comot dari kampung halaman saya yaitu Jember. Selepas saya boyong ke Madiun, Doa Ibu langsung ambrol dan rewel hingga 3 bulan lamanya. Bahkan karena jengkel, Doa Ibu ini sempat mau saya jual.

Untung saja saya tawarkan sana sini gak ada yang mau, canda Andriy Duhdek SF.
Namun berkat kesabaran dan tangan dingin mas Fitra sang mekanik, Alhamdulillah Doa Ibu kembali bisa nampil bahkan kini menjadi ancaman serius ijo mania kususnya di blok timur. Sejatinya, Doa Ibu ini secara kualitas gak kalah dengan jawara- jawara cucak hijau nasional lainnya. Cuma saat ini saya belum ada waktu longgar untuk main total dalam beberapa event yang kini kian padat.


Dalam bulan November 2019 ini, tepatnya pada 10 November 2019, Doa Ibu membukltikan dirinya sebagai cucak hijau paling berbahaya dengan menorehkan prestasi dua kali juara 1 alias double winner dalam event Sultan Cup IV Madiun, yang digelar digantangan Benggol Joyo Madiun.

Main di Sultan Cup IV, Doa Ibu bukan tanpa rintangan, lawan- lawan yang menghadangnya merupakan jawara- jawara kenyang prestasi lintas blok. Kualitas yang mumpuni dengan isian love bird, gereja tarung, roll- rollan isian kecil- kecil dengan isian kenari sebagai pamungkas, jelas saja membuat penampilan Doa Ibu sangat menonjol.

Selain kualitas materi yang seabrek, kemenangan demi kemenangan Doa Ibu selama ini juga didukung oleh kinerja yang rapet nyaris tanpa jeda, hingga akhir penilaian. Soal rawatannya pun menjelang lomba gak neko- neko. Pemberian jangkrik standart saja, cuma yang unik dari Doa Ibu adalah menjelang naik gantangan disuapi pisang sampai kenyang. Hal ini jelas berbeda karena rata- rata ijo lainnya banyak disuapin jangkrik.


“ Cukup dengan pisang, Doa Ibu alhamdulillah gak pernak luput dari podium “, bongkar Andriy Duhdek. Sebelumnya, Doa Ibu juga sukses menempati posisi juara 2 dan 3 dalam event Road to Sultan Cup IV. Jelas sudah siapa Doa Ibu. Burung muda yang masih panjang prospeknya, namun kualitas dan kestabilannya tidak diragukan lagi. Tunggu aksi- aksi Doa Ibu selanjutnya. Semoga Doa Ibu terus stabil, pungkas Andriy Duhdek SF.
( Mediaronggolawe/ ebod jaya )