APBN KORWIL MANADO (SEKARANG KAMI SUDAH TIDAK MERASA SENDIRI LAGI)

117
Om Yanni Lumintang - aktif meramaikan dunia perburungan di Manado

APBN Korwil Manado, perjuang pahlawan konservasi dari ujung timur Indonesia. Tidak mudah menjalankan hobi burung di wilayah ini, banyak kesulitan yang dihadapi bagi para penghobi burung. Teknologi yang semakin canggih membuat kita bisa dengan mudah bisa melihat setiap kejadian di seluruh belahan dunia. Demikian pula untuk dunia burung, awalnya para penghobi di wilayah  ini hanya bisa melihat penghobi lain terutama Pulau Jawa yang setiap hari sdapat menyalurkan hobinya untuk berlomba, bersilaturahmi dan bertemu banyak orang. Beruntung akhirnya lomba burung dapat diadakan dengan munculnya beberapa eo, salah satunya Ronggolawe Nusantara.

“Dengan masuknya banyak EO, Ronggolawe salah satunya minimal disini kami dapat berlomba dengan standar yang sama seperti rekan lain di Pulau Jawa yang lombanya ramai” kata om Yanni Lumintang.

Setelah lomba sudah bisa berjalan muncul masalah baru, yaitu ketersedianya sarana pendukung lomba, sangkar, pakan, vitmin dan yang utama adalah burung yang akan di lombakan. Burung yang dilombakan mayoritas masih berasal dari luar wilayah. Salah satunya adalah murai batu.

“Murai Batu sini masih jarang, permintaan banyak tapi stok tebatas. Kalau pun ada harganya sudah mahal, itu yang menjadi kendala penghobi murai batu di Manado ini” om Yani Lumintang yang merupakan ketua Korwil APBN korwil Manado menjelaskan.

Untuk lomba setingkat latber jumlah peserta awalnya tidak lebih dari sepuluh, sekarang sudah meningkat antara dua puluh sampai duapuluh lima peserta paling banyak. Om Yanni Lumintang adalah salah satu penggiat lomba burung berkicau dan juga sebagai agen Produk Ebod Jaya di Manado. Atas campur tangan om Yanni Lumintang ini berlahan namun pasti kicau mania di kota ini bangkit. Intinya mau bergerak, tanpa pamrih dan mau saling berkordinasi satu sama lain untuk dapat meramaikan perburungan itu prinsip dasar yang di pegang om Yani Lumintang, siapapun pelakunya apapun oranisasinya kalau tujuanya baik pasti akan mendapat dukungan.

“Siapapun pelakunya apapun oranisasinya kalau tujuanya baik pasti akan mendapat dukungan. Bagitu pula saat APBN masuk ke kota Manado ini, terus terang kami juga tidak menyangka sampai sejauh itu. Ternyata kami yang jauh di timur ini masih mendapat perhatian walaupun jumlah kami para penangkar tidak seberapa” om Yanni Lumintang  menjelaskan rasa harunya.

Untuk penangkaran sendiri om Yani Limuntang baru akan memulainya, ia masih mengumpulkan materi indukan. Sampai saat ini sudah terkumpul beberapa materi indukan unggulan.

APBN sudah menyentuh Sulawesi Selatan

Di kota ini sendiri sudah ada beberapa peternak yang sukses dan berhasil menangkarkan murai batu. Salah satunya adalah H. Jaenal Hisom, asal Jombang – Jawa Timur ini mengaku sudah 18th tinggal di Manado.  Pa Haji yang sehari-hari berprofesi sebagai sebagai kontraktor bajaringan dan gymsum telah memulai usaha penangkaran murai batunya sejak tiga tahun yang lalu, namun baru satu tahun kebelakang ini berhasil.

“Sudah dari tiga tahun yang lalu, tapi baru setahun kebelakang ini berhasil setelah kenal teman dari priuk, saya lupa namanya. Saya banyak konsultasi dan belajar sama dia. Alhamdulillah berhasil. Itu sebabnya saya merasa senang, saat APBN masuk ke Manado ini. Kami para penangkar yang jauh di Timur Indonesia ini jadi merasa tidak sendiri lagi, kami merasa punya saudara baru yang nantinya dapat untuk saling berbagi” jelas H. Hisom dengan penuh semangat.

Mengawali penangkaranya dengan indukan biasa dan pola rawat seadanya mumbuatnya selalu gagal pada dua tahun pertama. Namun tidak membuatnya menyerah, setelah mencari beberapa referansi akhirnya mengenal seorang teman dari Tanjung Priok menyarankan untuk mengganti semua indukan yang ada, dengan pola rawat juga mengikuti anjuran dari temanya tersebut. Saat ini ada empat pasangan Murai Medan yang produktif. Pola perawatan saat ini sudah dirubah, saat ini sangat memperhatikan kebersihan dan sanitasi sangkar, makanan, minuman setiap hari diganti.

Penangkaran H. Hisom, fentilasi dan sanitasinya sangat diperhatikan

Persis seperti yang diungkapkan om Yanni Lumintang, menurut H. Hisom di Manado masih kekurangan stok murai batu. Saat ini banyak peminat tapi stok masih langka. “Sebenarnya bisa saja didatangkan dari Jawa, Sumatra atau wilayah lain, tapi nantinya malah jadi mahal di ongkos kalo dikirim satuan kemari” papar H. Hisom.

Saat ini H. Hisom mempunyai lima ekor jantan siap ditangkarkan, namun karena terkendala stock betina maka masih harus bersabar menunggu. Dengan adanya APBN kedepan nantinya diharap akan bisa membuka jalur informasi, dari mulai soal penangkaran sampai penjulan hasil penangkaranya.

H. Hisom juga menyebutkan salah satu yang kendala yang dihadapi para penangkaranya adalah susahnya jangkrik, sekalinya ada harganya juga mahal. Oleh karena itu ia mengaku sangat senang saat di APBN ada promo pakan Nanjung 105, karena merupakan pakan premium yang kadunganya proteinya sangat tinggi, jadi bisa menghemat jangkrik.

“Kemaren saya order langsung dari Bandung online, anak yang order. Saya kurang tau yang jual-jual online soalnya. Sepertinya bagus buat burung murai dapat menghemat jankrik juga” kata H. Hisom sambil tersenyum.

Untuk hasil penangkarannya sendiri ia mengaku belum sempat memiliki, karena baru umur dua sampai tiga minggu selalu di beli teman, terpaksa ia jual karena kesibukanya juga yang tidak sempat untuk meloloh trotolan sampai besar.

Sekali lagi H. Hisom menegaskan sangat berterima kasih untuk APBN, Pa Haji Ebod yang sudah mau memperhatikan para penangkar di Manado. Serta kepada Kang Dody Naga dan Om Culik yang saat itu hadir saat dekrarasi APBN Korwil Manado “Kami Merasa Sudah Tidak Sendiri Lagi”